Kamis, 10 Sep 2026
Beranda › Berita
Berita

7 Masalah Rambut Rontok Pria dan Cara Mengatasinya

✍️ Dewi 🕒 10 Sep 2026 👁️ 1x dibaca
rontok-briliobeauty
rontok-briliobeauty Foto: briliobeauty.net

Rambut rontok menjadi masalah umum pada pria yang dapat memengaruhi kepercayaan diri. Ada 7 masalah utama penyebab kerontokan rambut pada pria, mulai dari faktor genetik hingga gaya hidup, yang masing-masing memiliki ciri, penyebab, dan solusi berbeda. Penting untuk memahami kondisi ini guna penanganan yang tepat.

Rambut rontok adalah kondisi yang umum dialami pria dari berbagai usia, memengaruhi penampilan serta kepercayaan diri.

Normalnya, seseorang kehilangan 50 hingga 100 helai rambut setiap hari sebagai bagian dari siklus pertumbuhan alami.

Namun, kerontokan berlebihan atau penipisan rambut signifikan dapat menjadi tanda adanya masalah mendasar yang memerlukan perhatian.

Memahami penyebab dan pilihan penanganan yang tepat menjadi penting untuk mengatasi kondisi ini.

1. Alopecia Androgenetik (Kebotakan Pola Pria)

Ini adalah penyebab kerontokan rambut paling umum pada pria. Ciri khasnya adalah garis rambut yang mundur membentuk pola “M” dan penipisan rambut di area ubun-ubun atau puncak kepala.

Kondisi ini bersifat progresif dan dapat dimulai sejak usia muda, bahkan sebelum 21 tahun.

Penyebab utamanya adalah kombinasi faktor genetik atau keturunan dan hormon pria, khususnya dihidrotestosteron (DHT).

DHT menyebabkan folikel rambut menyusut dan memperpendek siklus pertumbuhan rambut, sehingga rambut menjadi lebih tipis dan akhirnya berhenti tumbuh.

Solusi medis untuk kondisi ini meliputi Minoxidil topikal atau oral, Finasteride yang merupakan obat resep untuk menghambat konversi testosteron menjadi DHT, serta transplantasi rambut untuk kasus yang lebih parah.

Mengelola stres dan memastikan nutrisi yang baik juga dapat membantu menjaga kesehatan rambut secara keseluruhan.

2. Telogen Effluvium

Telogen effluvium ditandai dengan kerontokan rambut yang tiba-tiba dan menyebar di seluruh kulit kepala atau diffuse shedding.

Jumlah rambut rontok bisa melebihi 150 helai per hari, namun kondisi ini umumnya bersifat sementara dan tidak menyebabkan kebotakan permanen.

Kerontokan rambut ini dipicu oleh stres fisik atau emosional yang parah, seperti penyakit berat termasuk COVID-19, operasi besar, perubahan pola makan drastis, penurunan berat badan yang cepat, atau stres psikologis yang intens.

Stres mendorong folikel rambut masuk ke fase istirahat lebih cepat.

Penanganannya meliputi identifikasi dan mengatasi pemicu stres atau masalah kesehatan yang mendasari.

Fokus pada nutrisi yang baik, terutama asupan zat besi dan zinc, serta mengelola stres dengan teknik relaksasi dan tidur yang cukup dapat membantu.

3. Alopecia Areata

Alopecia areata adalah kondisi kerontokan rambut yang terjadi dalam bentuk bercak-bercak bulat atau oval yang jelas di kulit kepala, janggut, atau bagian tubuh lainnya.

Kemunculannya bisa tiba-tiba dan cepat, dengan rambut di sekitar bercak mungkin menjadi rapuh dan tipis. Beberapa pria juga merasakan gatal atau sensasi terbakar di area yang terkena.

Ini adalah penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut sendiri. Faktor genetik, stres, infeksi, dan kondisi medis kronis lainnya juga dapat berkontribusi pada kemunculannya.

Solusi yang ada memerlukan konsultasi dengan dokter spesialis kulit untuk diagnosis dan penanganan.

Pengobatan dapat meliputi suntikan steroid, obat topikal untuk merangsang pertumbuhan rambut, mengurangi peradangan, dan mengatur respons imun. Untuk kasus parah, ada pengobatan yang baru disetujui seperti ritlecitinib.

4. Kekurangan Nutrisi

Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan rambut menjadi rapuh, menipis, dan mudah rontok secara berlebihan. Kondisi ini sering kali terlihat pada pola kerontokan yang menyebar di seluruh kepala.

Penyebabnya adalah diet ketat atau pola makan tidak seimbang yang menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi penting seperti protein, vitamin D, zat besi, zinc, vitamin B kompleks (B6, B7/biotin, B12), vitamin E, dan asam lemak.

Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, yang sering dikaitkan dengan rambut rontok.

Untuk mengatasinya, penting untuk meningkatkan asupan makanan kaya nutrisi seperti daging merah, telur, produk susu, ikan, kacang-kacangan, bayam, dan biji labu.

Suplementasi nutrisi dapat dilakukan jika terbukti ada defisiensi, setelah berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

5. Efek Samping Obat-obatan

Kerontokan rambut jenis ini terjadi beberapa minggu atau bulan setelah memulai konsumsi obat tertentu dan umumnya bersifat sementara. Penipisan rambut bisa terlihat secara menyeluruh di kulit kepala.

Beberapa jenis obat dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut atau keseimbangan hormon.

Contohnya termasuk obat kemoterapi, antidepresan seperti Wellbutrin, pengencer darah (antikoagulan), obat tekanan darah tinggi, obat antikejang, heparin, methotrexate, isotretinoin untuk jerawat, dan krim retinol.

Penting untuk tidak menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Rambut biasanya akan tumbuh kembali setelah penggunaan obat dihentikan, dengan perkiraan waktu sekitar 6-9 bulan untuk telogen effluvium atau 2-6 bulan untuk anagen effluvium.

6. Infeksi Kulit Kepala

Infeksi kulit kepala dapat menunjukkan gejala berupa lingkaran merah, kulit kepala bersisik atau berkerak, gatal, kemerahan, rambut mudah patah, dan kerontokan rambut di area yang terinfeksi.

Kerontokan seringkali terlokalisasi pada area yang terinfeksi.

Penyebab infeksi ini adalah jamur, seperti tinea capitis atau kurap, atau infeksi bakteri pada kulit kepala. Mikroorganisme ini mengganggu kesehatan folikel rambut secara langsung.

Solusinya adalah pengobatan infeksi yang mendasari, biasanya dengan obat antijamur atau antibiotik sesuai resep dokter. Rambut umumnya akan tumbuh kembali setelah infeksi berhasil diobati sepenuhnya.

7. Kerusakan Akibat Perawatan Rambut yang Salah

Perawatan rambut yang tidak tepat dapat membuat rambut menjadi rapuh, mudah patah, dan rontok.

Jika folikel rambut rusak parah, kondisi ini dapat menyebabkan kebotakan permanen di area yang terkena.

Penyebab kerusakan ini meliputi penggunaan alat penata rambut panas terlalu sering, menggosok rambut terlalu kasar dengan handuk, penggunaan minyak rambut panas, serta produk styling yang berat dan sulit dibilas yang menumpuk di kulit kepala.

Tidak keramas secara teratur, tidak membilas rambut hingga bersih, dan menyisir rambut saat basah juga berkontribusi pada kerontokan.

Untuk mengatasinya, pria dapat menggunakan produk perawatan rambut yang lembut dan bebas sulfat.

Hindari penggunaan panas berlebih pada rambut, keringkan rambut secara perlahan dengan handuk lembut, dan pilih produk styling berbahan dasar air.

Pastikan rambut dicuci bersih setelah digunakan dan hindari menyisir rambut saat basah karena lebih rentan patah. Rutin keramas juga penting untuk menjaga kebersihan kulit kepala.

Meskipun rambut rontok adalah kondisi yang umum, memahami penyebabnya merupakan langkah pertama untuk penanganan yang efektif.

Dari faktor genetik hingga gaya hidup, setiap masalah memiliki pendekatan solusi yang berbeda.

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit jika kerontokan rambut berlebihan atau mengkhawatirkan, guna mendapatkan diagnosis yang tepat dan rencana perawatan yang sesuai.

Dengan perawatan yang benar dan perubahan gaya hidup sehat, pria dapat menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala mereka.

Disusun dengan bantuan penelusuran web dari: clinicbarcelona.org, wikipedia.org, americanhairloss.org, dermnetnz.org, alodokter.com, halodoc.com, nih.gov, jakartahairtransplant.com.

D
DewiRedaktur
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update