Minggu, 27 Sep 2026
Beranda › Berita
Berita

6 Perubahan Hormonal Pemicu Ketombe yang Perlu Kamu Ketahui

✍️ Dewi 🕒 17 Sep 2026 👁️ 2x dibaca
ketombe9
ketombe9 Foto: voi.id

Enam perubahan hormonal dalam tubuh dapat menjadi pemicu utama munculnya ketombe di kulit kepala. Kondisi ini sering ditandai serpihan kulit mati dan gatal.

6 perubahan hormonal di dalam tubuh seringkali menjadi faktor penting yang memengaruhi munculnya ketombe pada kulit kepala. Ketombe adalah kondisi kulit kepala umum yang ditandai dengan serpihan kulit mati berwarna putih atau kekuningan. Kondisi ini seringkali disertai rasa gatal, dan meskipun tidak menular, ketombe dapat menurunkan rasa percaya diri seseorang. Salah satu faktor penting yang memengaruhi kemunculannya adalah perubahan hormonal, yang dapat memicu produksi minyak berlebih di kulit kepala. Kondisi kulit kepala berminyak menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan jamur Malassezia globosa, penyebab utama ketombe.

1. Pubertas

Selama masa pubertas, tubuh mengalami peningkatan produksi hormon androgen yang secara langsung merangsang kelenjar sebaceous. Kelenjar ini memproduksi sebum atau minyak alami kulit dalam jumlah yang lebih banyak. Produksi sebum yang berlebihan membuat kulit kepala menjadi lebih berminyak, menciptakan lingkungan lembap dan kaya minyak yang disukai jamur Malassezia globosa. Pertumbuhan jamur yang tidak terkendali ini kemudian memicu iritasi, peradangan, dan pengelupasan sel kulit kepala yang cepat, menghasilkan serpihan ketombe.

2. Kehamilan

Fluktuasi hormon yang signifikan, terutama estrogen dan progesteron, terjadi selama periode kehamilan. Perubahan hormon ini dapat memengaruhi aktivitas kelenjar minyak di kulit kepala.

Beberapa wanita mungkin mengalami peningkatan produksi minyak yang menyebabkan kulit kepala lebih berminyak dan rentan ketombe, sementara yang lain mungkin mengalami kulit kepala menjadi lebih kering, yang juga bisa memicu pengelupasan dan ketombe.

3. Menopause

Penurunan kadar hormon estrogen yang drastis selama menopause dapat memengaruhi kondisi kulit kepala. Perubahan hormonal ini dapat menyebabkan kulit kepala menjadi lebih kering dan kurang terhidrasi. Kulit kepala yang kering cenderung lebih mudah mengelupas, menghasilkan ketombe kering, dan ketidakseimbangan hormon juga dapat memengaruhi scalp barrier, menjadikannya lebih rentan terhadap iritasi.

4. Stres dan Hormon Kortisol

Stres, baik fisik maupun emosional, memicu pelepasan hormon stres utama yaitu kortisol. Kadar kortisol yang tinggi dalam tubuh dapat merangsang kelenjar sebaceous untuk memproduksi lebih banyak sebum, membuat kulit kepala menjadi lebih berminyak. Selain itu, stres kronis dapat menekan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh lebih sulit mengendalikan pertumbuhan jamur Malassezia yang normal di kulit kepala. Jamur tersebut dapat tumbuh berlebihan dan memicu ketombe.

5. Hormon Androgen

Hormon androgen, yang lebih banyak pada pria tetapi juga ada pada wanita, memiliki peran kunci dalam mengatur produksi sebum. Pria cenderung lebih rentan terhadap ketombe dibandingkan wanita, sebagian besar karena kadar hormon androgen yang lebih tinggi memicu produksi minyak berlebih di kulit kepala. Pada wanita, ketidakseimbangan androgen, misalnya pada kondisi tertentu, juga dapat menyebabkan peningkatan produksi minyak dan ketombe. Produksi sebum yang berlebihan ini menjadi makanan bagi jamur Malassezia, memperburuk kondisi ketombe.

6. Ketidakseimbangan Hormon Umum

Ketidakseimbangan hormon secara keseluruhan dalam tubuh, termasuk gangguan tiroid atau peningkatan hormon seperti DHT (dihidrotestosteron), dapat memengaruhi kesehatan kulit kepala.

Gangguan tiroid dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut dan kesehatan kulit secara umum, yang secara tidak langsung memengaruhi kondisi kulit kepala.

Hormon DHT, sebagai turunan androgen, juga dapat memengaruhi folikel rambut dan produksi minyak, yang pada gilirannya dapat berkontribusi pada lingkungan kulit kepala yang rentan ketombe.

Ketidakseimbangan hormon secara umum dapat mengganggu regulasi sebum dan melemahkan scalp barrier, membuat kulit kepala lebih rentan terhadap iritasi dan pertumbuhan jamur penyebab ketombe.

Selain perubahan hormonal, ketombe juga dapat dipicu oleh beberapa faktor lain yang perlu kamu ketahui. Produksi minyak berlebih pada kulit kepala menciptakan lingkungan ideal untuk pertumbuhan jamur Malassezia. Infeksi jamur Malassezia ini secara alami ada di kulit kepala, tetapi pertumbuhannya yang berlebihan dapat menyebabkan iritasi dan pengelupasan. Kulit kepala kering juga dapat menyebabkan ketombe, dengan serpihan yang biasanya lebih kecil dan tidak berminyak.

Kondisi kulit seperti dermatitis seboroik dapat menyebabkan kulit kepala merah, berminyak, dan bersisik. Alergi terhadap produk rambut, seperti bahan kimia dalam sampo, kondisioner, atau pewarna, dapat menyebabkan iritasi.

Jarang keramas juga bisa memicu penumpukan minyak dan sel kulit mati.

Faktor genetik juga berperan, dan kondisi medis tertentu seperti Parkinson, HIV/AIDS, eksim, atau psoriasis dapat meningkatkan risiko ketombe.

Pola makan tidak sehat, seperti kekurangan vitamin B, seng, dan asam lemak esensial, serta sistem kekebalan tubuh yang lemah, juga membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi jamur.

Untuk mengatasi ketombe, kamu bisa menggunakan sampo antiketombe yang mengandung bahan aktif seperti zinc pyrithione, selenium sulfide, ketoconazole, salicylic acid, piroctone olamine, atau tar batu bara. Rutin keramas 1-3 kali seminggu dapat mengurangi penumpukan minyak dan sel kulit mati. Mengelola stres melalui teknik relaksasi atau aktivitas yang mengurangi stres penting dilakukan, karena stres dapat memperburuk ketombe. Pola makan sehat dengan konsumsi makanan kaya vitamin B, seng, dan asam lemak esensial juga mendukung kesehatan kulit kepala.

Hindari produk rambut yang mengiritasi dengan memilih produk perawatan rambut yang lembut dan sesuai jenis kulit kepala. Jangan menggaruk kulit kepala karena dapat memperparah iritasi dan peradangan. Tidur cukup mendukung sistem kekebalan tubuh yang sehat. Beberapa bahan alami seperti lidah buaya, minyak kelapa, soda kue, cuka sari apel, atau tea tree oil juga dapat membantu, namun efektivitasnya bervariasi. Jika ketombe parah dan tidak membaik dengan perawatan rumahan, konsultasikan dengan dokter kulit untuk penanganan lebih lanjut, termasuk obat oral jika diperlukan.

Memahami peran perubahan hormonal dalam menyebabkan ketombe adalah langkah penting untuk penanganan yang efektif.

Dengan mengidentifikasi pemicu hormonal dan menerapkan solusi yang tepat, baik melalui produk perawatan khusus maupun perubahan gaya hidup, masalah ketombe dapat dikelola dan diatasi sehingga kesehatan kulit kepala dan kepercayaan diri dapat kembali optimal.

Pembaca perlu memastikan sendiri informasi terkini sebelum memutuskan perawatan.

Disusun dengan bantuan penelusuran web dari: zalora.co.id, hellosehat.com, alodokter.com, headandshoulders.co.id, watsons.co.id, clearhaircare.com, halodoc.com, ioraclinic.com.

D
DewiRedaktur
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update